MIVO TV

Sabtu, 14 Juli 2012

Wisata Ziarah Waliyuallah Jakarta Timur : Karya Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya

Pintu masuk areal makam Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya
Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya mengabdikan dirinya untuk berdakwah, mengajar dan menulis. Beliau adalah guru agama yang dicari oleh masyarakat Betawi. Dua murid yang berhasil dididik dan menjadi ulama besar adalah Guru Mugni dari Kuningan dan Habib Ali bin Abdurrahman al Habsyi (Habib Ali Kwitang). Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya memulai pengajarannya di Mesjid Pekojan . Sayyid Usman bin Aqil bin Yahyaadalah ulama yang berjasa besar dalam pengajaran agama melalui media cetak di kalangan masyarakat betawi dan memiliki percetakan sendiri di Tanah Abang (kini disebut Petamburan).
Makam Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya

Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya mengarang 126 buku mengenai pertanyaan yang timbul tentang syariat Islam. Salah satu karya Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya adalah buku berjudul Tawdih al Adillat 'ala Syuruth Syuhud al Ahillat mengenai cara penentuan hilal Ramadhan. Hal ini dilatarbelakangi pada tahun 1882, umat Islam Jakarta terbagi dua dalam menuntukan awal puasa Ramadhan. Dalam buku Risalah Dua Ilmu Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya membagi ulama menjadi dua macam, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat. Yang termasuk ulama dunia adalah ulama yang tidak ikhlas, materialistis, berambisi dengan kedudukan, sombong dan angkuh. Ulama akhirat adalah ulama yang ikhlas, tawadlu, yang berjuang mengamalkan ilmunya tanpa keinginan tertentu, hanya mencari ridha Allah.

Mesjid al Abidin didirikan oleh cucu Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya
Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya yang terkenal sangat anti gerakan Wahabi dan menganggap gerakan itu sangat radikal. Dalam buku Mustika Pengarubuat Menyembuhkan Penyakit Keliru, Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya bahwa kaum Wahabi adalah paling berdusta. Setiap memiliki pandangan dan dalam menyatakan sikapn yang tidak setujunya, Sayyid Usman  bin Aqil bin Yahya selalu menuliskannya lewat buku. Ia sangat tegas-keras dalam soal fikih menyebabkan Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya terlibat dalam berbagai polemik dengan sesama ulama, bahkan dengan pemerintah Hindia Belanda.
Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya wafat pada 21 Shafar 1331 H atau 19 Januari 1914, jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Namun pada masa Gubernur Ali Sadikin saat ada penggusuran, makamnya dipindahkan ke makam keluarga di  Pondok Bambu. Sekarang makam wali Allah, Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya  masih terpelihara dengan baik di sebelah selatan masjid Al-Abidin, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Letak makam dari waliyuallah ini adalah di Jalan Mesjid abidin (Jalan Perkebunan 4 apabila di cari di googlemaps), Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Foto diri Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya
Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya adalah mufti Betawi yang saya kenal ketika membaca buku Ulama Betawi : Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya terhadap Perkembangan Islam Abad ke 19 dan 20 karya Ahmad Fadli HS, M.si. Wali Allah ini besar sekali kontribusinya terhadap Islam di Nusantara.Dalam tulisannya di harian De Locomotif edisi 11 Juli 1890, Snouck Hurgonje menulis, ”Beberapa waktu lalu kami telah minta perhatian terhadap buah karya baru Sayyid Uthman dari Betawi yang tak kenal lelah, yaitu serangkaian pelajaran yang berguna yang ditujukannya buat orang-orang sebangsanya yang bermukim di sini; dan untuk tujuan tersebut ditempelkannya di berbagai mesjid Betawi. Pena dan mesin cetak litografi Syaid Usman telah menghasilkan karya yang besar.”Letak makam dari waliyuallah ini adalah di Jalan Mesjid abidin (Jalan Perkebunan 4 apabila di cari di googlemaps), Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Sayyid Usman bin Yahya lahir di Pekojan, Jakarta Barat pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1238 H atau 1822 M. Ayahnya  adalah Abdullah bin Aqil bin Syech bin Abdurahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya. Sedangkan ibunya adalah Aminah binti Syekh Abdurahman Al-Misri. Beliau pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji, tetapi kemudian bermukim  di sana selama 7 tahun  dengan maksud memperdalam ilmunya. Guru utama beliau adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketika berada di Mekah beliau belajar/berguru pada sayyid Ahmad Zaini Dahlan ( Mufti Mekah ). Pada tahun 1848 berangkat pula ke Hadramaut untuk balajar pada guru-gurunya :1.Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir
2.Habib Abdullah bin Umar bin Yahya
3. Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri
4.Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar.

Pintu Masuk Makam Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya
Dari Hadramaut Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya berangkat ke Mesir  dan belajar di Kairo walaupun hanya untuk 8 bulan. Kemudian Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya meneruskan perjalanan lagi ke Tunis ( berguru pada Syekh Abdullah Basya ), Aljazair ( belajar pada Syekh Abdurahman Al-Magribhi ), Istanbul, Persia dan Syiria. Maksud beliau berpergian dari satu negeri ke negeri lain adalah untuk memperoleh dan mendalami bermacam-macam ilmu seperti ilmu fiqh, tasawuf, tarikh, falak, dan lain-lain. Setelah itu kembali ke Hadramaut.
Tahun 1862 M./1279 H. kembali ke Batavia dan menetap di Batavia hingga wafat pada tahun 1331 H./1913 M. Al-Habib Usman bin Yahya diangkat menjadi Mufti menggantikan mufti sebelumnya, Syekh Abdul Gani yang telah lanjut usianya, dan sebagai Adviseur Honorer  untuk urusan Arab ( 1899 – 1914 ) di kantor Voor Inlandsche Zaken. Disana Sayyid Usman bin Aqil bin Yahya digaji 100 gulden sebulan atau 1/7 dari gaji Snouck Hurgonje. Ia terlibat politik sebagai penasehat pemerintah Belanda dan menjaladi hubungan dengan Snoucj Hurgonje, L.W.C Van Den Berg dan K.F Holle.
 
Habib Abdul Qodir bin Usman bin Muhammad Banahsan


Ziarah Makam Wali Jakarta Pusat : Akhir Sengketa Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi, Cikini

Jalan Menuju Makam Habib Abdurachman al Habsyi
melewati Sungai Ciliwung
Ketika kami mengunjungi makam Habib Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi pada awal Februari 2012, jalan yang biasa menghubungkan Jalan Cikini Raya dengan makam Habib  Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi  (gang melalui ex- hotel Sofyan Cikini) telah ditutup dan dialihkan melalui Jalan Raden Saleh. Kamipun menyusuri Jalan Raden Saleh dan setelah Rumah Sakit Cikini ketika melewati jembatan Sungai Ciliwung, kami membelokkan mobil ke kiri masuk ke Jalan Inspeksi Sungai Ciliwung. Pemindahan pintu masuk makam Habib  Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi ini merupakan akhir sengketa makam yang telah terjadi hampir 3 tahun lamanya.

Peziarah hanya dapat melihat makam Habib Abdurachman al Habsyi dari kejauhan

Bersyukur atas karunia Allah yang memuliakan kekasihNya, sengketa makam Habib Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi  telah berakhir dengan penuh keagungan. Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi akan dibuatkan gubah dan mesjid sehingga peziarah dapat berziarah dengan khusyuk. Pemindahan makam Habib Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi tidak akan dilakukan.
Peziarah antusias melihat kronologi kejadian di Makam Habib Abdurachman al  Habsyi

Sengketa makam wali Allah, Habib Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi dimulai dengan rencana relokasi makam wali Allah yang akan dijadikan Apartemen Mutiara Menteng Mansion. Pada saat makam waliyuallah Habib Abdurrahman bin Abdullah al Habsyi hendak diangkat, air mulai mengucur dari tanah makam beliau (Juli 2010) yang sampai saat ini air tersebut belum berhenti mengalir deras. Sejak saat itulah, banyak pihak menegosiasikan pembatalan rencana relokasi makam yang penuh berkah yang telah ada di Jalan Kramat V, Jakarta Pusat sejak tahun 1296. 
Jalan Inspeksi Sungai Ciliwung dilihat dari Makam Habib Abdurachman al Habsyi

Ziarah Makam Waliyuallah Jakarta Utara : Wisata Ziarah Tanjung Priuk/ Tanjung Priok dan Wisata Ziarah


Gapura di kedua komplek Makam Mbah Priuk
Nama daerah Tanjung Priuk/ Tanjung Priok terkenal sebagai daerah pelabuhan dan terminal peti kemas yang ramai. Bagi saya merupakan daerah yang asing karena selain jaraknya jauh dari tempat tinggal saya, bayangan akan truk tronton dan kontainer membuat saya tidak akan berkunjung ke daerah Tanjung Priuk/ Tanjung Priok bila tidak penting sekali.

Tetapi semua itu berubah sejak dua tahun lalu, ketika saya mengunjungi Komplek makam Mbah Priuk di Jalan Raya Timur, Kola, Jakarta Utara. Tanjung Priuk/ Tanjung Priok khususnya komplek makam Mbah Priok adalah tempat luar biasa tenang dan menenangkan untuk kita dapat beribadah disana.


11 Makam Waliyuallah di komplek makam Mbah Priok

Komplek makam Mbah Priuk di Tanjung Priuk/ Tanjung Priok adalah areal seluas 452.270 ha yang letaknya di depan RS. Koja, Jakarta Utara tepat di samping pelabuhan peti kemas Koja. Di dalam komplek makam Mbah Priuk terdapat 11 makam para wali Allah yang ramai dikunjungi siang dan malam oleh para peziarah dari daerah sekitar Jakarta ataupun dari luar Jakarta. 

Peziarah berdoa di komplek makam Mbah Priok di Tanjung Priuk/ Tanjung Priok

Berada di Komplek makam Mbah Priok di Tanjung Priuk/ Tanjung Priok bagaikan menemukan sebuah tempat untuk berteduh dari panas dan bisingnya Jakarta. Panas dan bisingnya daerah Tanjung Priuk/Tanjung Priok seakan tertahan ketika berada di Komplek makam Mbah Priok. Shalawat, bacaan al Quran dan doa tidak berhenti dilantukan para peziarah. Karamah dari wali Allah yang dimakamkan di Komplek makam Mbah Priok terasa hingga di relung hati.

Wisata Ziarah Waliyuallah Jakarta Selatan : Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG)

 
Gubah atau gerbang Menuju Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung)
Gate towards Habib Ahmad Bin Alwi Bin Al-Haddad (Habib Kuncung) resting place

Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad adalah makam wali Allah yang selalu ramai dikunjungi oleh peziarah. Tetapi Ahmad Bin Alwi Al-Haddad lebih dikenal dengan sebutan Habib Kuncung. Peziarahpun banyak datang dari berbagai daerah. Letak makam Habib Kuncung yang berada di dekat stasiun Kalibata mempermudah peziarah untuk datang. Bagi saya nama Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung sudah sering saya dengar melalui teman ayah yaitu Bapak Bambang Triyatna yang tinggal di daerah Rawajati, Kalibata, Jakarta dekat dengan makam. Ketika tahu saya, suami dan anak saya senang berziarah beliau mengundang saya untuk datang ke rumahnya setelah berziarah ke wali Allah, Habib Kuncung. 

The resting place of Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad  is the grave of wali Allah (saint in Muslim) which is always visited by pilgrims. But Ahmad Bin Alwi Al-Haddad better known asHabib Kuncung. Many pilgrim come from different regions in Indonesia. The location ofthe grave of Habib Kuncung near the station Kalibata facilitate pilgrims to come. For me the name of Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad  I have often heard through a friend's father, Mr.Bambang Triyatna who lived in the area Rawajati, Kalibata, Jakarta close to his resting place.

  
Gambar diri Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) di terpasang di pintu masuk makam
Picture of Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung at the entrance of his grave

Berita mengenai Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung saya dengar dari teman bahwa beliau adalah murid dari Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor. Kecintaan Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (habib Kuncung) bagai ayah dan anaknya sehingga dimanapun ada Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas pasti di situ ada habib Kuncung. Dikisahkan ketika Habib Kuncung datang ke Empang, Bogor bertemu guru beliau, Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, waktu itu Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas sedang sarapan pagi tiba-tiba Habib yang berkharismatik tinggi yang bermaqam mulia ini tersenyum, lalu ditanya oleh murid beliau, Habib Alwi Al Haddad, "Ada apa dikau tersenyum wahai guruku yang mulia?" "Lihatlah ya Alwi, itu Ahmad sedang menari-nari," seru beliau. Habib Alwi pun melihatnya seraya beliaupun tersenyum, "Apakah kau lihat ya Alwi?" seru Habib Keramat Empang , "Apa wahai guruku?" tanya habib Alwi, beliau menjawab, "Ya Alwi, itu habib Ahmad menari-nari dengan bidadari."

The story about Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung  I heard fromfriends that he was a student from Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor.Love of Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (habib Kuncung) as father and son so thatwherever there is Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas certainly there is habib Kuncung.Narrated  when Habib Kuncung comes to the Empang, Bogor met his teacher, HabibAbdullah bin  Mukhsin, Al Attash. When Habib Abdullah Bin  bin Mukhsin Al Attas, wali Allah who has high maqam (degree in faith to Allah) had breakfast  was a suddenlysmile, then asked by his student, Habib Alwi Al Haddad, "O my master, why are you smiling?" "See ya Alwi, that Ahmad was dancing," he exclaimed. Habib Alwi  smiledas he saw it, "Alwi Did you see it?" said Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas. "What is it, O my master?" Habib Alwi asked, he replied, "Yes Alwi, Habib Ahmad was dancingwith an angel."


 
Lokasi di depan Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) terdapat banyak makam lain
There are many other tombs in front of  Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung)'s resting place

Karena saya sering berziarah ke makam Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor sayapun berkunjung ke makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung yang letaknya di dekat IPMI Business School, Kalibata. Kompleks makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung terletak di pinggir jalan Rawajati, Kalibata dan terletak di pojok diseberang sungai Kalibata terjaga dengan baik dan sangat bersih. Memasuki komplek tersebut, berdiri sebuah Mesjid besar bernama Mesjid At Taubah yang sekarang sedang direnovasi dan makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung  berada di sisi kiri Mesjid At Taubah.

Since I often visit the resting place of  Habib  Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor, so I visited to the resting place of Habib Ahmad Bin Alwi al-Haddad known as HabibKuncung, that is located near the IPMI Business SchoolThe grave complex of Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad known as Habib Kuncung  located on the side of the Rawajati, Kalibata street and is located on the corner opposite the Kalibata  river is well kept and very clean. Entering the complex, stands a large mosque named Masjid At-Taubah, which is now being renovated and the grave of Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad known as Habib Kuncung are in the left side of the Masjid At-Taubah.

 
Banyak sekali peziarah datangberdoa di Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) 
Lots of pilgrims come to Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) to pray

Mengenai riwayat Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah seorang wali Allah yang memilikikhoriqul a’dah yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya. Menurut  bahasa kewalian disebut "Majdub" atau disebut dengan ahli Darkah maksudnya disaat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan maka beliau muncul dengan tiba-tiba. Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad atau Habib Kuncung lahir di Gurfha, Hadramaut, Tarim pada tanggal 26 syaban 1254 H dan beliau belajar kepada ayahanda beliau sendiri Al habib Alwi Al Haddad dan belajar pula kepada Al habib Ali Bin Husein Al Hadad, Hadramaut. Di Indonesia beliau belajar pada Habib Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi (ayah Habib Ali Kwitang yang makamnya memancarkan air ketika hendak di gusur, Cikini) dan kepada Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor. 

Regarding the history of Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad is a wali Allah (saint of Allah) whohas khoriqul a'dah means that he is beyond human habits generally. According to language called "Majdub" or called by experts Darkah mean when people in trouble and need of help then he suddenly came up . Habib Ahmad Bin  Alwi Al Haddad or Habib Kuncung born inGurfha, Hadramawt, Tarim on the 26th of Shaban 1254 H and he learned to his own fatherHabib Alwi Al Haddad and learn also to Al Habib Ali  Bin  HusseinAl Hadad, Hadramaut. InIndonesia, he studied at Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (Habib Ali Kwitang'sfather that his grave  emit water when they wanted the evicted, Cikini) and the Al-HabibAbdullah bin Muksin Athas, Empang, Bogor.

Nama panggilan yang terkenal bagi Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah Habib Kuncung karena kebiasaan beliau mengenakan kopiah yang menjulang ke atas (muncung) dan perilaku beliau yang terlihat aneh dari kebiasaan orang pada umumnya terutama dalam hal berpakaian. Hal itu bisa dilihat di foto beliau yang dipajang di pintu masuk. Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad atau Habib Kuncung tutup usia pada tahun 1345 H tanggal 29 Syaban sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun.  Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad, kembali ke rahmatullah dan di makamkan  di pemakaman keluarga Al Haddad Kalibata, Jakarta Selatan. Setiap hari banyak peziarah dari berbagai daerah di Nusantara terutama pada perayaan Maulid yang diadakan setiap minggu pertama Bulan Robiul awal ba’da asyar.

Well-known nickname for Habib Ahmad Bin Alwi  Al Haddad is Habib Kuncung because of hishabit to wore a cap which rises to the top (muncung) and he looks strange behavior of thehabits of people in general, especially in dress. It can be seen in his photographs on displayat the entrance. Habib Ahmad Bin  Alwi Al Haddad or Habib Kuncung or dies in the 29thShaban 1345 H around the year 1926  at the age of 93 years. Habib Ahmad Bin Alwi AlHaddad, back to Rahmatullah (died) and was buried in the family cemetery of Al HaddadKalibata, South Jakarta. Every day many pilgrims from different parts of the Indonesia, especially on Maulid celebrations (Prophet Muhammad SAW birthday celebration) held everyfirst week of the month early Robiul ba'da Asr.

 
Nisan Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG)
The gravestone from Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG)

Tradisi ziarah ke makam tokoh Islam di Jakarta

Makam Sayid Husein  bin Abubakar Alaydrus
Makam Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus terletak di kompleks Masjid Luar Batang, Jakarta
Tradisi ziarah kubur untuk menghormati tokoh-tokoh penyebar Islam di Indonesia masih terjaga hingga saat ini.
Di Jakarta ada beberapa makam yang kerap dikunjungi seperti makam Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, tokoh keturunan Arab yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di abad 17.
Makamnya berada satu komplek dengan Masjid Luar Batang di Penjaringan, Jakarta Utara. Meski letaknya di tengah pemukiman padat, warga Jakarta dapat dengan mudah menemukan masjid tersebut.
Cara tercepat untuk mencapai lokasi ziarah ini adalah menggunakan ojek sepeda motor atau sepeda. Hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari stasiun kereta api kota atau halte busway stasiun kota.
Hampir semua pengojek tahu di mana letak Masjid Luar Batang dan makam Sayid Husein Abubakar Alaydrus.

Peziarah yang datang kesini itu ada yang datang dari luar negeri seperti dari Malaysia, bahkan para pejabat datang juga kesini
Masjid yang awalnya berupa mushola menurut catatan sejarah yang ada, didirikan oleh tokoh Islam asal Hadramaut, Yaman Selatan ini pada tahun 1739.
Pada peta-peta Batavia abad ke-19, Masjid Luar Batang terkadang ditulis heiling graf, artinya masjid keramat.
Masjid ini terletak di sebelah utara tembok kota lama Batavia, dan tidak berjauhan dengan gudang rempah-rempah VOC yang kini menjadi Museum Bahari.
Luar Batang sendiri artinya daerah di luar batang (groote boom), yang menutup Pelabuhan Sunda Kalapa pada malam hari.
Sosok pendirinya sendiri bisa dikatakan sebagai perintis awal penyebaran Islam di wilayah itu.

Tokoh dihormati

Pemerhati sejarah Jakarta Alwi Shahab dalam sebuah tulisannya mengatakan informasi soal Habib Husein pernah termuat dalam KoranBataviaasche Courant 12 Mei 1827, yang menyebutkan bahwa Habib Husein meninggal kurang lebih pada tahun 1796, setelah menyiarkan Islam di Surabaya dan Batavia.
Informasi seputar tahun wafatnya Habib Husein ini memang ada beberpa versi, namun dalam pada makam Habib Husein Alaydrus tertulis, Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan 24 Juni 1756.
Masjid Luar Batang
Bangunan asli Masjid Luar Batang sudah tidak terlihat lagi.
Terlepas dari perdebatan seputar tahun wafatnya tersebut, jasanya terhadap pengembangan Islam di wilayah itu telah diakui oleh masyarakat luas.
Kondisi makam Habib Husein sendiri saat ini terawat rapi dan berada dalam kompleks Masjid Luar Batang Jakarta.
Hingga saat ini setiap tahun ratusan orang berziarah ke makamnya untuk menghormati jasa Habib Hussein.
Tingkat kunjungan ziarah ke makam dan masjid tersebut mencapai puncaknya saat perayaan Maulid Nabi dan khoul atau saat peringatan wafatnya Habib Sayid Husein Bin Abubakar Alaydrus yang dirayakan setiap akhir bulan Syawal.
Di luar peristiwa itu, keramaian dapat ditemui setiap Kamis malam.
Salah satu pengurus Masjid Luar Batang yang juga mengawasi perawatan makam tersebut, Syaumin Tabrani, menceritakan mereka yang datang berziarah kemakam ini berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
"Peziarah yang datang kesini itu ada yang datang dari luar negeri seperti dari Malaysia, bahkan para pejabat datang juga kesini. Dari luar kota peziarah biasanya datang dari Kalimantan dan Sumatera. Kalau peziarah dari Jawa itu rutin datang setidaknya dua kali setahun," kata Syaumin

Alasan ziarah 

Ada banyak alasan mereka datang berziarah ke makam Habib Sayid Hussein.
Slamet Gumanto salah satu peziarah yang berasal dari Bogor,Jawa Barat, menceritakan selain mendoakan Habib Hussein, kadang dia berharap ada berkah dari kunjungannya ke makam tersebut.
"Pertama ingin mendekatkan diri kepada Allah, kalau mau niat sesuatu biasanya ada waktu tertentu. Misalnya ketika ada kesulitan ekonomi atau keluarga yang sakit supaya dikurangi bebanya," kata Slamet.
Peziarah lainnya yang berasal dari Jakarta, Muwahidin, mengaku berusaha untuk bisa rutin berziarah ke makam ini.
"Ya kita ngerutininlah, ada masalah atau tak ada masalah khususnya setiap malam jumat kita sempatkan. Beliau ini berjasa besar dalam penyebaran Islam di Jakarta," kata Muwahidin.
Ziarah kubur dalam Islam memang dianjurkan, tujuanya adalah mendoakan mereka yang telah meninggal agar diampuni dosanya.
Namun tidak sedikit yang memaknai ziarah kubur sebagai upaya untuk memohon berkah dari mereka yang telah meninggal dunia.
Tokoh intelektual Islam Azumardi Azra mengatakan kebiasaan ini tidak lepas dari singgungan budaya yang ada.
"Ziarah kubur tidak lagi sekadar praktek keagamaan tapi sudah berpadu dengan budaya. Sehingga yang kemudian terjadi adalah orang berziarah tapi meratap bisa dapat jodoh atau jabatan. Ini memang agak sulit dihalangi karena sudah terjadi gejala budaya," kata Azumardi.
"Namun ulama bisa mengingatkan agar peziarah tidak melakukan hal tersebut."
Selain makam Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus dan Masjid Luar Batang, masyarakat juga bisa mendatangi sejumlah makam penyebar Islam yang berdampingan dengan sejumlah masjid tua lain dengan arsitektur masih terjaga di Jakarta .
Beberapa di antaranya adalah Masjid An-Nawir di Jalan Raya Pekojan yang berdiri tahun tahun 1760, Masjid Langgar Tinggi yang berdiri tahun 1829, dan Masjid As-Salafiah di Jatinegara Kaum, dekat Pulo Gadung, Jakarta Timur yang dibangun pada tahun 1619.
Memang tidak semua masjid beserta makam tokoh yang ada saat ini punya catatan sejarah yang mengupas secara lengkap.

Firasat Mualaf

Tidak lama berselang sepulang dari menempuh pendidikan di sebuah pesantren, Yushar (nama samaran) berkenalan dengan seorang gadis dan kemudian ia jatuh cinta kepada Maria (nama samaran) gadis itu yang beragama kristen. Demi cintanya Maria pun melepaskan agamanya dan masuk agama Islam. Kemudian mereka menikah dan dikaruniai seorang anak. Ada keinginan dalam diri Yushar untuk mengetahui Islam lebih dalam, bukan sekedar tulisan tapi makna di balik tulisan. Yushar pun pergi ke rumah seorang kiai dan mengutarakan keinginannya untuk belajar kepada beliau tentang Islam lebih dalam. 
Awalnya pak kiai ini menolak, namun Yushar tetap memaksa. Akhirnya kiai ini pun mengiyakan permintaan Yushar dan pengajian ini dilaksanakan di rumah Yushar. Seminggu sekali atau terkadang dua kali pak kiai ini ke rumah Yushar memberikan uraian tentang makna ayat-ayat  al-qur’an dan hadits berikut penerapannya dalam kehidupan dan tanpa diketahui pak kiai dan Yushar, ternyata Maria, istri Yushar mendengarkan dan menyimak apa-apa yang disampaikan pak kiai kepada Yushar.
Empat bulan kemudian, ketika Maria menunaikan shalat Maghrib. Setelah takbiratul ihrom, antara sadar dan tidak, tiba-tiba  dia melihat di depan matanya seorang janda tua (mbah Iyem, tetangga yang rumahnya dekat sawah) dalam kesusahan dan menahan lapar. Seperti mimpi, namun begitu jelas tampak di depan mata. Setelah selesai sholat Maria menceritakan apa yang dialaminya dalam sholat kepada Yushar. Yushar pun tercengang, namun dia ingin membuktikan apakah yang dilihat Maria itu benar.
Yushar dan Maria bergegas pergi ke rumah janda tua tadi dengan membawa beras 5 kg dan uang 10 ribu (uang 10 ribu waktu itu senilai beras 15-20 kg). Dan ternyata benar, sesampai di rumah janda tua ini, Yushar dan Maria menjadi tahu bahwa mulai pagi sampai petang, mbah Iyem belum makan apa-apa karena memang tidak ada yang dimakan. Apa yang dilihat Maria dalam sholat bukanlah ilusi, tapi sebuah kenyataan. Yushar tercengang dengan kejadian yang dialami isterinya. Kemudian Yushar segera pergi menemui pak kiai dan menceritakan kejadian yang dialami istrinya.
Mendengar cerita itu pak kiai tersenyum dan berkata, “Siapa saja yang benar-benar melaksanakan ajaran Islam, Allah akan membuka apa-apa yang tidak diketahui manusia. setinggi apapun ilmu yang kamu miliki kalau hanya menempat di bibir itu sama saja dengan dongeng. Bahkan ilmu bisa menjadi penghalang manusia untuk mengenal dan mendekat kepada Allah, karena sifatnya yang angkuh dan sombong ”
Empat hari kemudian, pak kiai pergi ke rumah Yushar. Seperti biasa Maria menyuguhkan minuman dan makanan ringan. Setelah menyuguhkan minuman, Maria duduk di dekat suaminya dan bertanya kepada pak kiai, “Maaf pak kiai, sebelum ke sini, pak kiai tadi ke rumah temannya ya? Rumahnya gedong menghadap ke barat, pak kiai ke sana ada keperluan soal pekerjaan, apakah itu benar?” Pak kiai menjawab, “Tepat sekali”. Yushar tidak habis pikir dengan kelebihan yang dimiliki istrinya. “Yang belajar saya, tapi kok justru istri saya yang bisa?” tanya Yushar kepada pak kiai. Pak kiai menjawab, “Istrimu itu benar-benar melaksanakan ajaran Islam tanpa tolah-toleh kiri kanan, sedangkan kamu masih ada bintik-bintik hitam dalam hati yang belum engkau bersihkan.”
Tujuh bulan kemudian, Maria mulai sakit-sakitan, karena dari sebelum menikah dia mengidap penyakit asma.
Pada suatu hari pak kiai datang ke rumahnya, seperti biasanya  Maria minta izin kepada suaminya untuk bicara empat mata kepada pak kiai, dan Yushar pun mengiyakan dan masuk kamar. Di ruang tamu hanya ada Maria dan pak kiai.
Maria mulai membuka pembicaraan, “Pak kiai, semalam saya dapat petunjuk dari Allah, bahwa bulan, tanggal , hari, dan jam sekian hidup saya telah berakhir, bagaimana menurut Panjenengan dan apa yang harus saya lakukan?” Pak kiai menjawab, “Iya, petunjuk itu benar, dan gunakan sisa hidup sampean untuk beribadah lebih semangat untuk menyambut masa depan yang lebih cerah”.
Ajalpun  tiba, empat jam sebelum kedatangan malaikat maut, Maria pergi ke pasar, membeli apa-apa yang berkaitan dengan selamatan tahlilan dan tak lupa membeli kain kafan. setelah sampai di rumah ia menyempatkan menggendong dan menyusui anaknya yang masih kecil. Kemudian anak tadi diberikan kepada neneknya dan ia langsung mandi. Setelah mandi dan wudlu Maria masuk kamar dan shalat sunnah dua rakaat. Setelah selesai shalat ia berbaring dan kain kafan yang dibelinya tadi ditaruh di sampingnya, ajalpun datang menjemput, sesuai dengan petunjuk yg ia dapatkan…
Kisah ini terjadi pada tahun 1994, diceritakan oleh salah satu pelaku (pak kiai yang tidak pernah mau disebut namanya) sekitar 7 tahun yang lalu di daerah Banyuwangi. Semoga bermanfaat..!!

DAFTAR MAKAM AWLIYA DI JAKARTA


Makam Para wali di jakarta
1. AL-HABIB HUSEIN BIN MUHSIN AL-AYDRUS
2. SYARIFAH SALMA BINTI HUSEIN AL-AYDRUS
3. MBAH PANGERAN SYARIF (DATUK BANJIR) BIN SYEIKH ABDURROHMA N (LUBANG BUAYA)
4. AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN HASAN BIN HUD AL-ATHOS (Al-Khaerot)
5. AL-HABIB ‘ALI BIN HUSEIN AL-ATHOS (Al-Hawi)
6. AL-HABIB AHMAD BIN ABDULLAH BIN HASAN AL-ATHOS (Al-Khaerot)
7. AL-HABIB ‘IDRUS BIN HUSEIN AL-HAMID AL-KHOIROT (Kramat Al-Khaerot )
8. PANGERAN JAYAKARTA BIN PANGERAN SUNGRASA WIJAYA KARTA BIN TUBAGUS ANGKE (Klender)
9. PANGERAN LAHUT (Klender)
10. PANGERAN SEGIRI BIN SULTAN AGUNG TIRTAYASA (Klender)
11. PANGERAN SURYA (KLENDER)
12. RATU ROFIAH (KLENDER)
13. SYEIKH KOMPI UBAN (KRAMAT CIPINANG)
14. SYEIKH DATUK GEONG (KRAMAT JATI)
15. SYEIKH DATUK BANJAR (KRAMAT JATI)
16. KYAI QOSIM BIN KYAI TOHIR (PULO)
17. AL-HABIB UMAR (KRAMAT KOMPI MAS SEMPER)
18. AL-HABIB MUHAMMAD SYARIF BIN ALWI BIN HASAN BIN ALI ASSEGAF (KOMPI JENGGOT)
19. SYEIKH KOMPI TIMUR (KRAMAT SUNTER)
20. SYEIKH KOMPI BARAT (KRAMAT SUNTER)
21. SYEIKH KOMPI RESO (KRAMAT SUNTER)
22. SYEIKH KOMPI PENGANTIN (KRAMAT YOS SUDARSO)
23. AL-HABIB SYARIF BIN ‘ALI BIN HUSEIN BIN UTSMAN (CUCU SUNAN GUNUNG JATI 19, KRAMAT MENGKOK) SEMPER
24. SAYYID ALI (KRAMAT BATU TIMBUL/TUMBUH SEMPER)
25. PANGERAN PUGER BIN MUHAMMAD BIN SULTAN HASANUDIN (KRAMAT DEWA KEMBAR)
26. AL-HABIB SALIM BIN SYEIKH ABU BAKAR (DEWA KEMBAR)
27. AL-HABIB SAYYID HUSEIN BIN HASAN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT DEWA KEMBAR)
28. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD ABDULLOH AL-HABSYI/ MBAH SAYYID ARELI DATO KEMBANG (KRAMAT ANCOL)
29. SYARIFAH ENENG (KRAMAT ANCOL)
30. AL-HABIB HANUN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)
31. HABABAH SYARIFAH REGOAN BINTI HANUN BINTI SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)
32. AL-HABIB HASAN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (MBAH PRIUK)
33. AL-HABIB SYARIF MUHSIN BIN ‘ALI BIN ISHAQ BIN YAHYA (KRAMAT CILINCING)
34. AL-HABIB SYEIKH ABDUL HALIM BIN YAHYA (KRAMAT AL-ALAM MARUNDA)
35. AL-HABIB MUHAMMAD BIN UMAR AL-QUDSY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)
36. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMA N BA’ALAWY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)
37. AL-HABIB ABDURROHMA N BIN ALWI ASSATIRI (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)
38. SYARIFAH FATIMAH KECIL BINTI HUSEIN AL-AYDRUS (KRAMAT PEKOJAN)
39. AL-HABIB HUSEIN BIN ABU BAKAR AL-AYDRUS (KRAMAT LUAR BATANG)
40. AL-HABIB MUHAMMAD BIN SYEIKH BIN HUSEIN AL-BAHAR (KRAMAT TUNGGAK)
41. MU’ALLIM SYAFI’I HADZAMI BIN SHOLEH RO’IDI (KEBAYORAN )
42. AL-HABIB UTSMAN BIN ABDULLOH BIN AQIL BIN YAHYA BIN AL’ALAWY (PONDOK BAMBU)
43. PANGERAN SYARIF HAMID AL-QODRI BIN AL-HABIB SULTON SYARIF ABDUL ROHMAN AL-QODRY BIN MAULANA SYARIF HUSEIN (KRAMAT ANGKE)
44. SYARIFAH AMINAH BINTI PANGERAN SYARIF HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)
45. AL-HABIB SHOLEH AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)
46. KOMPI NA SYEIKH (KRAMAT ANGKE)
47. SYEIKH JA’FAR (KRAMAT ANGKE)
48. SYEIKH LIONG (KRAMAT ANGKE)
49. SYARIFAH MARIAM (KRAMAT ANGKE)
50. PANGERAN TUBAGUS ANJANI (KRAMAT ANGKE)
51. AL-HABIB SAYYID ABU BAKAR BIN SAYYID ALWI BAHSAN JAMALULLAI L (KRAMAT MANGGA DUA)
52. AL-HABIB ALWI BIN AHMAD JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)
53. AL-HABIB ABU BAKAR BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)
54. SYARIFAH HUDZAIFAH BINTI ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)
55. PANGERAN WIJAYA KUSUMA (KRAMAT KEDOYA)
56. PANGERAN PAPAK ADIPATI TANJUNG JAYA (KRAMAT PEDONGKELA N)
57. AL-HABIB UMAR BIN HAMID BIN HASAN BIN ABDULLOH BIN AHMAD BIIN HASAN BIN SHOHIBUL ROTIB AL-HADDAD (KRAMAT PESING)
58. AL-HABIB ABBAS BIN ABU BAKAR BIN HUSEIN BIN AHMAD BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT RAYA BOKOR)
59. AL-HABIB UTSMAN BIN MUHAMMAD BIN AHMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)
60. AL-HABIB UMAR BIN UTSMAN BIN MUHAMMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)
61. SHOHIBUL KAROMAH WAL BAROKAH AL-HABIB ABU BAKAR BIN ALWI BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT ABIDIN PONDOK BAMBU)
62. SAYYID HABIB HUSEIN BIN UMAR BIN ‘ALI BIN SYAHAB (KRAMAT PECENONGAN )
63. AL-HABIB ALI BIN SHOLEH ABDURROHMA N AL-QODRY RADEN ATENG KERTADRIA (KRAMAT JAYAKARTA)
64. AL-HABABAH SYARIFAH FATHIMAH (KRAMAT SAWAH BESAR)
65. AL-HABIB HASAN BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)
66. AL-HABIB ABDUL QODIR BIN MUHAMMAD AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)
67. AL-HABIB UMAR BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)
68. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMA N AL-HABSYI (KWITANG)
69. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ‘ALI BIN ABDURROHMA N AL-HABSYI KWITANG)
70. SYARIFAH NI’MAH BINTI ZEIN BIN AHMAD BIN SYAHAB (KWITANG)
71. AL-HABIB ABDURROHMA N BIN ABDULLOH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)
72. SYARIFAH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)
73. SYEIKH UPU DAENG H.ARIF UDIN (KRAMAT SENEN, WAFAT TAHUN 17)
74. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
75. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
76. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
77. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
78. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
79. AL-HABIB THOHA BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
80. AL-HABIB ABDURROHMA N BIN HASAN BIN SHAHAB (KALIBATA)
81. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)
82. AL-HABIB AHMAD BIN ‘ALWI BIN AHMAD BIN HASAN BIN ‘ABDULLOH AL-HADDAD / HABIB KUNCUNG (KALIBATA)
83. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)
84. AL-HABIB ABDULLOH BIN HUSEIN ASSAMI AL-ATHOS
85. AL-HABIB THOHA BIN MUHAMMAD BIN ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA BIN ABDULLOH BIN THOHA BIN UMAR BIN ALWI AL-HADDAD (KALIBATA)
86. SYEIKH RAHMATULLO H (KEBAYORAN )
87. DATUK BIRU (KRAMAT RAWA BANGKE)
88. AL-HABIB ZEIN BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (AL-HAWI)
89. AL-HABIB SALIM BIN JINDAN (AL-HAWI)
90. WAN SYARIFAH FATHIMAH BINTI ABDULLOH AL’AIDID (KRAMAT PETOGOGAN)
91. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD BIN ZEIN AL’AIDID (KRAMAT PULAU PANGGANG, KECAMATAN PULAU SERIBU, JAKARTA/ KRAMAT TIMUR)
92. AL-HABIB HUSEIN BIN AQIL BIN AHMAD BIN SOFI ASSEGAF (KRAMAT BARAT PULAU PANGGANG)
93. AL-HABIB MUSTOFA BIN IDRUS BIN HASAN AL-BAHAR (KRAMAT LUBANG BUAYA)
94. SAYYID AHMAD BIN HAMZAH AL-ATHOS (KRAMAT PEKOJAN)
95. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
96. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
97. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN ALHADDAD (KRAMAT PRIUK)
98. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABDUL QODIR AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
99. AL-HABIB SALIM BIN THOHA JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
100. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
101. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
102. RA KANJENG ADIPATI DALAM NEGERI 1 SOSRODININGRAT (KRAMAT JAYAKARTA)
103. RA AJENG SULARTI (KRAMAT JAYAKARTA)
104. SYEIKH MANSYUR (KRAMAT LIO-PASAR PAGI)
105. HABIB ALWI BIN HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)
106. HABIB MUHAMMAD BIN ALWI AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)
107. PANGERAN USMAN (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)
108. AL-HABIB SALIM BIN ABDULLOH AL-QODRY/ PANGERAN SALIM (KRAMAT PULO GEBANG