MIVO TV

Sabtu, 14 Juli 2012

Wisata Religi

Wisata Religi Bogor : Karomah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri

Potret Muda Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri
Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, di Jalan Lolongok, Bogor, Jawa Barat. Berjarak 200 Meter dari makam guru Beliau, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (Habib Empang Bogor). Makam beliau sangat asri dan nyaman untuk membaca doa karena terdapat alas karpet. "Banyak peziarah yang datang kesini", ujar seorang Ibu tua yang menjadi penjaga makam. 

Wali Allah yang mengajar tanpa kenal lelah, sederhana, ikhlas, selalu mementingkan kesederhanaan dan disiplin. Kedisiplinan Beliau tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” tutur Habib Ali bin Abdurrahman, putra Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Mengenai keikhlasan dan kedermawanannya, beliau selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya.

Ketika masih menjadi pelajar, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mejadi murid kebanggaan dan disayang oleh para guru. Beliaulah satu-satunya murid yang sangat menguasai tata bahasa Arab dan acuan bagi murid lain. Tata bahasa Arab adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab-kitab klasik yang lazim disebut “kitab kuning”. Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dipercaya sebagai guru di madrasahnya. Disinilah bakat dan keinginannya untuk mengajar semakin menyala. Beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar dan tidak hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama, tapi juga melatih bidang-bidang yang lain, seperti melatih kelompok musik ( dari seruling sampai terompet ), drum band, bahkan juga baris-berbaris. 



Peristirahatan Terakhir Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri 
Salah satu kisah mengenai karomah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri adalah ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Buyro di Parung Banteng Bogor sekitar tahun 1990. Sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih di Parung Banteng Bogor. Ketika membuka majlis Taklim itulah, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri bermunajat kepada Allah swt selama 40 hari 40 malam, mohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber belum juga ditemukan. Maka Beliau meneruskan munajatnya. Tak lama kemudian, entah darimana, datanglah seorang lelaki membawa cangkul. Dan serta merta ia mencangkul tanah dekat rumah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Setelah mencangkul, ia berlalu dan tanah bekas cangkulan itu ditinggal, dibiarkan begitu saja. Dan, subhanallah, sebentar kemudian dari tanah bekas cangkulan itu merembeslah air. Sampai kini sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. 




Pintu Masuk TPU Lolongok
Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mempunyai putra dan putri 22 orang; diantaranya Habib Muhammad, pemimpin pesantren di kawasan Ceger; Habib Ali, memimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet; Habib Alwi, memimpin Majlis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri; Habib Umar, memimpin pesantren dan Majlis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri dan Habib Abu Bakar, memimpin pesantren Al-Busyro di Citayam. Hal ini sesuai dengan pesan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri yang menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang anaknya melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya.

Ziarah Wali Allah Bogor : Karya Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri

Pintu Masuk Makam Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dikenal dengan sebutan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Seorang wali Allah yang yang berpulang ke Rahmatullah Selasa, 26 Maret 2007 di usia ke 99. Wali Allah, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, yang berjarak 200 meter, atau perkiraan 5 menit berjalan kaki dari Mesjid Empang, Bogor. 

Berkisah tentang Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri ketika menjadi pelajar, beliau adalah pelajar yang mau bekerja keras, berprestasi cemerlang dan berakhlak yang menjadi teladan teman - temannya. Lahir di Cimanggu, Bogor, tahun 1908, putra dari Habib Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf telah menjadi yatim sejak kecil. Dengan semangat Beliau untuk menuntut ilmu kepada seorang ulama, beliau tak segan-segan melakukannya dengan bersusah payah menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk belajar ke Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (Habib Empang Bogor) dari sekolahnya di Jamiat Al-Khair, Jakarta.


Nisan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (Mufti Johor, Malaysia), Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir AlHaddad, Habib Ali bin Husein Al-Aththas (Bungur, Jakarta), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), K.H.Mahmud (Ulama besar Betawi) dan Prof.Abdullah bin Nuh (Bogor) adalah guru - guru dari Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Di usia ke 20, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf pindah ke Bukit Duri. Beliau mendirikan madrasah sendiri, Madrasah Tsaqafah Islamiyyah, yang hingga sekarang masih berdiri tegak di Bukit Duri, Jakarta. Keunikan dari madrasah Tsaqafah Islamiyah adalah penerapkan kurikulum sendiri dan menggunakan buku-buku terbitan sendiri yang disusun oleh sang pendiri, Habib Abdurrahman Assegaf. 


Foto Diri Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri
Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dikenal sebagai ulama sepuh yang sangat alim,sangat disegani dan berpengaruh. Kegigihan Beliau dalam mengajarkan ilmu Allah dan produktivitasnya dalam mengarang kitab, merupakan teladan yang harus diikuti. Kitab-kitab buah karyanya tidak sebatas satu macam ilmu agama, melainkan juga mencakup berbagai macam ilmu. Mulai dari Tauhid, Tafsir, Akhlaq, Fiqih, hingga sastra. Bukan hanya dalam bahasa Arab, tapi juga dalam bahasa Melayu danSunda yang ditulis dengan huruf Arab- dikenal sebagai huruf Jawi atau pegon. Kitab karya Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri, antara lain adalah 1) Hilyatul Janan fi Hadyil Qur’an 2) Syafinatus Said 3) Misbahuz Zaman 4) Bunyatul Umahat 5) Buah Delima. 

Pada tahun 1960-an, Habib Abdurrahman mengalami kebutaan selama lima tahun. Namun musibah itu tak menyurutkan semangatnya dalam menegakkkan syiar islam. Pada masa-masa itulah beliau menciptakan rangkaian syair indah memuji kebesaran Allah swt dalam sebuah Tawasul, yang kemudian disebut Tawasul Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf.

Wisata Hati dan Jiwa di Bogor, Jawa Barat : Video Ziarah Wali Allah di Komplek Makam Habib Abdullah bin Mukhsin al Atthas

Alhamdulillah, Alhamdulillah ala kulli nikmatin kanat auhia kainah. Video kedua mengenai ziarah wali nusantara telah berhasil dibuat dan terupload. Semua ini berkat suamiku, Muhammad Faisal (semoga Allah memanjangkan umur dan memberikan ridho untuknya) saat kunjungan terakhir kami ke makam Habib Abdullah bin Mukhsin al Athas, Empang Bogor, selasa 7 Februari 2012 bersama anakku Ali Putra Kaabah (di video akan terlihat ia memakai baju biru).


Haru terasa bagi kami karena wisata ziarah hati dan jiwa pertama kami adalah kepada beliau, Habib Abdullah bin Mukhsin al Athas, 6 tahun yang lalu. Awal perjalanan kami ziarah yang membawa kami berziarah ke wali -  wali lain di pulau lain. Semoga kita semua mendapat kesempatan berziarah ke makam Habib Abdullah bin Mukhsin al Athas.

Tiga nasihat dari Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas, Empang Bogor

Buku yang menceritakan kisah perjalanan Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas
This book tell us about Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas's life story

Tiga nasihat dari Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas, Empang Bogor ini saya dapatkan ketika membacanya di buku 17 Habaib yang paling berpengaruh di Indonesia karya Abdul Qadir Umar Mauladdawilah.  Kalimat beliau menggambarkan kepintaran dan kedalaman ilmu. Berikut adalah nasihat indah tersebut:

This three advice from Habib Abdullah bin Muhsin al Attas, Empang, Bogor, I got it when reading the book The most influential 17 Indonesia's Habaib  from UmarAbd al-Qadir Mauladdawilah. His sentence illustrates the depth of intellect andknowledge. These are such wonderful advice:


"Apakah kalian mengetahui kunci - kunci surga itu?"
Ketahuilah bahwa kunci surga yang sebenarnya adalah Bismillahirohim

"Do you know the keys to heaven?"

Know that the key to heaven is actually a Bismillahirohim (With Calling Name ofAllah the Most Gracious and Merciful)



Terangilah rumahmu dengan lampu - lampu 
dan terangilah hatimu dengan bacaan Alquran



Enlighten your home with the light lamp
and lighten your heart with the recitation of the Qur'an


Semua para auliya itu diangkat oleh Allah Swt ke sebuah derajat
 yang tinggi karena hatinya bersih,tidak sombong,tidak dengki
dan selalu rendah hati

 The Auliya was appointed by Allah to a higher degree
 because of their clean heart , not arrogant, does not envy
and always humble

Sejarah Kawasan Empang, Rumah Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas

Mesjid An Nur, Kawasan Empang, Bogor
An Nur Mosque at Empang, Bogor

Lokasi makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas terletak di jalan Lolongok, Bogor. Apabila bertanya dimanakah jalan Lolongok berada kepada orang Bogor mereka pasti kurang familiar. Kawasan kramat Empang, Bogor adalah kawasan yang lebih dikenal oleh sekitar. Bayangan ketika mendengar kata Empang tentu pikiran kita langsung terbayang adanya empang di dekat makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas. Empang yaitu kolam luas yang biasanya digunakan untuk memelihara ikan atau udang tidak akan kita temukan disini.


Habib Abdullah ibn Mukhsin Al-Attas's resting place is located on Lolongok street,Bogor, West Java. If  you asked where Lolongok street, Bogor to the people, you will found difficult because Lolongok street is certainly less familiar. Kramat Pondarea (Kramat Empang, area), Bogor is a region better known by some When we hear the word of  pond (Empanmg), our mind immediately pictured a pond near the resting place of  Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Attas. But the pond (Empang)area that is normally used to keep the fish or shrimp will not be found here.
 
Perumahan di depan Mesjid An-Nur masih terlihat orisinal 
The houses in front of Mesjid An Nur looked so original
 
Saudara ipar saya adalah orang asli Bogor mengatakan sejak lahir saya hanya tahu kawasan makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas adalah kawasan Empang. Bagaimana sejarah kawasan ini saya temukan di situs Al-irsyad.or.id, perhimpunan dakwah yang dibentuk 1928 di kawasan Empang.


My brother-in-law is a native Bogor who born in Bogor said that I only know the resting place of area Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas named Pond (Empang)area. How does the history of this region I found on the site of Al-irsyad.or.id,proselytizing associations that formed in 1928 in the Pond (Empang).

 
Kawasan Empang, Bogor tahun 1800an
Empang, Bogor at 1800's



Menurut sejarah, kawasan Empang dulunya dulunya bernama Soekaati (Sukahati) ini menjadi pusat pemerintahan Kampung Baru (cikal bakal Kabupaten Bogor) tahun 1754, dibuktikan dengan adanya lapang yang dulunya berfungsi sebagai alun-alun dan bekas pendopo yang sekarang didiami oleh keluarga almarhum Abdul Azis Al-Wahdi yang berada persis menghadap ke arah alun-alun Empang.

Historically, the area (pond or Empang) was once used to be named Soekaati (Sukahati) is the administrative center of Kampung Baru (forerunner of Bogor District) in 1754, evidenced by the field that used to serve as the square and theformer pavilion which is now inhabited by the family of the deceased Abdul Azis Al-Wahdi which is directly facing the square Pond (Empang).
 
Kawasan Empang, Bogor (Soekahati) di 1800-an
Empang, Bogor (Soekahati) at 1800's
Sebutan Empang muncul ketika Bupati Kampung Baru, yaitu Demang Wiranata (berkuasa 1749-1758), membuat kolam ikan di halaman pendopo. Maka, daerah tersebut pun diidentikkan dengan Empang dari sang bupati dan nama Sukahati menjadi tergantikan. Nama Empang resmi digunakan sejak 28 November 1815 dan pada tahun itu pula dibangun Masjid An Nur oleh Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas.

Pond (Empang) designation arises when the Regent Kampung Baru, namely DematWiranata (reigned 1749-1758), make a fish pond in the courtyard pavilion. Thus,the area was identified with the Pond (Empang) of the regents and the nameSukahati be replaced. Pond's (Empang) official name in use since 28 November 1815 and in the same year An Nur Mosque built by Habib Abdullah Bin MukhsinAlatas .
 
Mesjid An Nur di tahun 1900
An Nur Mosque at 1900
 
Daerah tersebut mulai ditemakan sebagai permukiman masyarakat Arab sejak Tahun 1835 ketika pemerintah mengeluarkan peraturan wijkenstelsel. Yaitu diberlakukannya zona permukiman etnis. Dimana orang-orang Eropa menempati kawasan di sebelah barat jalan raya (sekarang jalan Sudirman) mulai dari Witte Paal sampai sebelah selatan Kebun Raya dan Pakancilan. Orang Tionghoa diberi peruntukan lahan di daerah yang berbatasan dengan jalan raya sepanjang jalan Suryakencana sampai tanjakan Empang. Sedangkan pemukiman Arab berada di sekitar Empang.

The area was identified as a residential community to Arabs began  since theyear 1835 when the government passed a law wijkenstelsel. Namely the implementation of ethnic residential zone. Where the Europeans occupying the area west of the highway (now Sudirman street) from Witte Paal to the south andPakancilan and Botanical Gardens. The Chinese were given the designation of landin the area adjacent to the highway all Suryakencana until the way up hill  Pond area (Empang). While the Arab settlements around the Pond (Empang).

Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas tahun 1900an
Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas's resting place at 1900's

Mengetahui sejarah nama Empang tentunya akan menambah keseruan dalam perjalanan wisata ziarah Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas di Empang Bogor. 

Knowing the history of the Pond's name will certainly add excitement in the Tombpilgrimage tour of Habib Abdullah bin Mukhsin  Al-Attas in Pond (Empang), Bogor . 

Sumber foto (Photo's source) :
www.al-Irsyad.or.id
www.masoye.multiply.com
www.w4x.wordpress.com
www.kota-bogorku.blogspot.com

Mesjid Peninggalan Habib Abdullah bin Mukhsin Al Athas


Wisata Ziarah Waliyuallah Bogor : Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad

Berziarah wali ke Empang, Bogor tidaklah lengkap tanpa berziarah ke makam Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad. Beliau  adalah sahabat sekaligus murid kesayangan dari Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, Empang, Bogor. Beliau adalah seorang yang alim dan termasuk golongan min kibril ulama wal auliya yang berarti para pembesar ulama dan aulia. Beliau melanjutkan majelis taklim yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas sepeninggalannya. Majelis taklim itulah yang menjadi cikal bakal Majelis Taklim Masjid an Nur Keramat Empang, Bogor. 


Ziarah (Pilgrimages) to wali at Empang, Bogor is not complete without a pilgrimage to the grave of Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad. He is a friend andfavorite student of Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, Empang, Bogor. He is a pious and one of min kibril ulama wal auliya which means the scholar of Islam andpious personages. He continued Majelis taklim (a group of people doing Al Quran recitation) founded by Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas.

Bercerita mengenai Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad tentu saja tidaklah lepas dari kisah perjalanan Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas selaku guru beliau. Salah satu kisah Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad yang menyaksikan karomah dari Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas adalah ketika diadakannya acara maulid di kediaman Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas. 



Talking about Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad can not be separated from Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas 's stories as his teacher. One of Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad's story who witnessed karomah from Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas when there was maulid (birth anniversary from the prophet, Muhammad) at Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas 's house.



Makam Wali Keramat Empang, Bogor tempat di mana Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad dimakamkan
Wali Karamah Empang, Bogor is Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad resting place

Banyaknya jamaah yang hadir pada acara maulid tersebut tak disangka sehingga jamuannya adalah yaitu nasi kebuli kurang. Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas meminta Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad untuk mengambil kebuli dari dalam lemari beliau. Berikut kata - kata beliau : "Wahai Alwi, ente ambil kebuli di dalam lemari ana tapi jangan melihat." Dengan patuh Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad melaksanakan perintah beliau. Subhanallah, nasi kebuli tersedia cukup untuk para hadirin yang sangat banyak. Nasi kebuli yang terhidang panas dan berlimpah tersebut menimbulkan pertanyaan pada Habib Alwi.


The number of jamaah (number a people who come from another place to attend an event) who attend the maulid (birth anniversary from the prophet, Muhammad) was so unexpected is that Kebuli rice (special rice with goat flesh) less in number. Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Attas  asked Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad  to take Kebuli rice from  his cabinet. Here's the word - he said: "O Alwi, grab the Kebuli rice in my closet but please do not open your eyes." Obediently, Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad execute hisorders. Subhanallah, Kebuli rice is enough for the jamaah. The Kebuli rice servedhot and plentiful that it raises questions on Habib Alwi.


Nisan Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad, murid kesayangan
Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas
Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad's tomb, favourite student of
Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas


Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad kemudian menghadap gurunya dan bertanya. "Wahai Habib, darimanakah makanan - makanan tersebut?" kemudian Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas pun menjawab, "Wahai Alwi, aku telah memohon izin kepada Allah SWT untuk mengambil langsung dari dapurnya asy-Syeikh Abdul Qadir al Jaelani." Kisah tersebut menjadi salah satu bukti bahwaHabib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad merupakan murid dan saksi kewalian dari Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas.

Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad and then facing the teacher andask. "O Habib, Where does the food come from?" then Habib Abdullah bin MukhsinAl-Attas replied, "O Alwi, I had begged permission to Allah SWT to take directlyfrom Sheikh Abdul Qadir al Jaelani 's kitchen." The story becomes one proof that Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad is a student and witness status as wali of Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas.

Peziarah banyak yang datang mendoakan Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad, sang wali
Many pilgrims who came to pray for  The Wali, Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad


Setelah kewafatan Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, Habib Alwi Muhammad bin Thahir al Hadad  tidak pernah memakai alas kaki ketika berziarah ke makam gurunya. Saat ditanya "Wahai Habib, apa yang membuatmu tidak mengenakan alas kakimu saat berziarah ke makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas?" kemudian Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad menjawab "Bagimana saya akan memakai alas kaki, sedangkan di bumi ini ada jasad al - Imam al - Habib Abdullah bin Muhsin al- Attas."


After Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas passed away, Habib Alwi Muhammad bin Thahir al Hadad  never wear footwear when on a pilgrimage to the grave of his master. When someone asked "O Habib, what makes your feet do not wear padsduring a pilgrimage to the Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas 's resting place?"then Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad replied, "How can I wear a footwear, while on this earth there are the bodies of al - Imam al - Habib Abdullah bin Muhsin al- Attas."
Foto Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad yang terpajang 
di rumah peninggalan Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas
Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad's photos displayed 
at Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas heritage house

Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad adalah seorang wali yang mengikuti jejak gurunya yaitu  Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas dengan kesahajan dan kedalaman ilmu. Beliau selama hidup dekat dengan gurunya begitu juga ketika wafatnya. Beliau dimakamkan dalam satu areal pemakaman di Keramat Empang, Bogor. Letaknya dekat dengan makam gurunya Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas yaitu disamping beliau dekat dengan pintu masuk areal makam Keramat Empang, Bogor.

Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al Hadad is a wali who follow in the footstepsof his teacher Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas with the simplicity and depth ofknowledge. He  so close to his teacher when life as well as death. He was buriedin a graveyard at Keramat Empang, Bogor. It lies close to the grave of his teacherHabib Abdullah bin Muhsin Al Attas is beside him near the entrance of the grave Keramat Empang, Bogor.

2 komentar: